Hadidjah Lena Mokoginta, Penggagas Lahirnya Bhayangkari Polri

0
617
views
Hadidjah Lena Mokoginta

Hadidjah Lena Mokoginta atau Hadidjah Lena Soekanto-Mokoginta, merupakan putri terbaik Bolaang Mongondow raya (BMR) yang ikut berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Polri.

Hadidjah Lena Mokoginta adalah saudara kandung Letjen TNI (Purn) Ahmad Yunus Mokoginta dan juga istri Kepala Polisi Negara (Kapolri) RI pertama, Jenderal Polisi R Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, mereka menikah pada 21 April 1932 di Selabintana, Sukabumi. Putri Abraham Patra Mokoginta tersebut saat masikah masih berusia 16 tahun, pernikahan itu menambah semangat Soekanto untuk segera lulus. Pada 1 Agustus 1933, Soekanto lulus dengan pangkat Komisaris Polisi Kelas III.

Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo bersama istrinya (foto:cnnindonesia.com)

Dalam catatan sejarah Bhayangkari Polri, organisasi istri anggota Polri, Hadidjah Lena Mokoginta adalah penggagas lahirnya organisasi tersebut pada tanggal 17 Agustus 1949 di Yogyakarta, namun Lena menolak menjadi Ketua tapi bertindak sebagai pelindung, ketua sendiri dipercayakan kepada Ny. T. Memet Tanumijaya. Hadidjah Lena Soekanto-Mokoginta, meninggal pada 1 Maret 1986, dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Suaminya Soekanto, meninggal pada 24 Agustus 1993, Soekanto yang merupakan Kapolri Pertama dan memiliki Bintang Mahaputra Adiprana kelas II, berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun sebelum meninggal sudah memberi wasiat kepada keluarganya agar jika ia meninggal dunia, hendaknya dimakamkan satu lubang dengan jasad sang istri terkasih.

Hadidjah Lena Mokoginta dan R Said Soekanto Tjokrodiatmodjo saat menikah, (foto: santijehannanda.com)

Kehidupan pasangan Soekanto-Mokoginta, dikenal pasangan pejabat yang sangat sederhana dan keluarga ini selalu senang menyambut tamu yang datang. Siapa pun tak pernah dibedakan. “Bila saya menghadapi ada pejabat polisi yang agak angkuh dan sombong, terus terang saya persilakan beliau datang menemui Bapak Soekanto di rumah beliau agar dapat melihat langsung keadaan Bapak Soekanto dengan rumah dan perabotan yang sangat sederhana tersebut,” kata Kombes (Purn) HA Koesnoro dalam tulisannya untuk buku biografi RS Soekanto yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2016.

Menurut dia siapa pun yang masih memiliki nurani, pasti langsung berubah sikap melihat kehidupan mantan Kapolri dan istrinya yang sangat sederhana itu. (Deyidi Mokoginta/dari berbagai sumber)